Rabu, 30 Desember 2009



KULTUR PAKAN ALAMI





Disusun oleh : SATRIO DJAJONG
Bidang peminatan : PERIKANAN
Nim : 0811779

FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
PENDIDIKAN S1 AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2009






DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ………………………………………….. i
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang ………………………………………….. 1
1.2 Tujuan ………………………………………….. 1
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian tubifex sp ………………………………………….. 2
2.2 Ciri Biologi tubifex sp …………………………………………. 2
BAB III METODOLOGI
3.1 Waktu dan tempat …………………………………………. 4
3.2 Alat dan bahan …………………………………………. 4
3.3 Langkah Kerja …………………………………………. 4
3.4 Analisa data …………………………………………. 5
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil …………………………………………. 6
4.2 Pembahasan …………………………………………. 6
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan …………………………………………. 9
5.2 Saran …………………………………………. 9
DAFTAR PUSTAKA











BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Salah satu kendala dari usaha budidaya ikan adalah ketersediaan pakan. Semakin berkembangnya usaha budidaya maka jumlah pakan yang dibutuhkan akan semakin banyak. Biaya pakan adalah biaya terbesar yang dikeluarkan dari total biaya produksi suatu usaha budidaya ikan. Salah satu bentuk pakan yang diberikan adalah pakan alami. Salah satu makanan alami yang disukai ikan terutama ikan hias adalah Tubifer sp.
Tubifex sp sering disebut sebagai cacing rambut karena bentuk dan ukurannya seperti rambut dengan warna tubuh kemerah-merahan (Anonimous, 2003). Substrat tempat hidup Tubifex sp adalah endapan organik dan makanannya didapat dari bahan yang kaya bakteri dan terjadi pengkayaan bahan organik dengan konsentrasi oksigen hampir nol (Hellawel, 1986).
Saat ini budidaya Tubifex sp untuk makanan alami masih belum banyak dilakukan. Umumnya masyarakat mendapatkan Tubifex sp dengan cara mengambil langsung dari sungai yang mengandung buangan organik tinggi terutama sungai yang menjadi daerah buangan limbah pabrik. Penggunaan Tubifex sp dalam budidaya akan menunjang perbaikan warna yang merupakan hal terpenting di dalam budidaya ikan hias.
Jika ditinjau dari segi ekonomi pemberian tubifex sp sebagai pakan ikan terutama ikan hias turut mengurangi biaya produksi. Selain biaya pengkulturannya yang relative murah dan sederhana juga dapat memenuhi nutrisi yang dibutuhkan oleh ikan.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
Memberikan informasi tentang budidaya tubifex sp secara teorotis
Menginformasikan teknik budidaya tubifex sp yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan larva
Memantau pertumbuhan tubifex sp
Sebagai bekal mahasiwa untuk menjadi seorang aquakulturis dan berwirausaha



BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian tubifex sp
Tubifex sp sering disebut sebagai cacing rambut karena bentuk dan ukurannya seperti rambut dengan warna tubuh kemerah-merahan (Anonimous, 2003). Substrat tempat hidup Tubifex sp adalah endapan
organik dan makanannya didapat dari bahan yang kaya bakteri dan terjadi pengkayaan bahan organik dengan konsentrasi oksigen hampir nol (Hellawel, 1986).
Tubifex sp tumbuh dengan media campuran kotoran ayam dan lumpur kolam. Kotoran ayam adlah limbah yang mudah diperoleh dan apabila tidak ditangani dengan baik maka dari segi sanitasi akan mempengaruhi kesehatan ternak dan produksinya. Kotoran ayam juga mengandung partikel organik dan bakteri yang menjadi makanan bagi Tubifex sp (Brinkhurst dan Cook, 1974).
2.2 Ciri Biologi Tubifex sp
Cacing rambut diklasifikan sebagai berikut:
Phylum : Annelida
Kelas : Oligochaeta
Ordo/bangsa : Haplotaxida
Famili/suku : Tubificidae
Genus/marga : Tubifex
Spesies/jenis : Tubifex sp
Ciri-ciri cacing rambut:
Panjang tubuh 10-20 mm, yang terdiri dari 30-60 segmen
Warna tubuh merah kecoklatan
Mempunyai dinding tubuh yang cukup tebal terdiri dari dua lapis otot yang membujur dan melingkar sepanjang tubuhnya
Setiap segmen pada bagian punggung dan perut keluar seta dan ujung seta bercabang dua tanpa rambut


Reproduksi dan pertumbuhan
Perkembangbiakan terjadi dengan cara pemutusan ruas dan pembuahan sendiri (hermaphrodite)
Telur cacing rambut terdapat didalam kokon yaitu suatu bangunan yang berbentuk bulat panjang 1 mm dan diameter 0,7 mm
Kokon dibentuk oleh kelenjar epidermis dari salah satu segmen tubuhnya yang disebut klitellum
Telur didalam kokon akan berkembang menjadi morula kemudian embrio yang bersegmen 3 sampai beberapa segmen
Setelah 10-12 hari embrio akan meninggalkan kokon
Induk cacing rambut menghasilkan kokon setelah berumur 40-45 hari
Habitat
Hidup didasar yang berlumpur dengan kepala yang menghadap ke dalam substrat untuk menghisap makanan
Menyukai daerah yang beraliran air dan tercemar bahan organic, semakin banyak bahan organic didalam perairan maka akan semakin meningkat populasinya
Kedalaman substrat berkisar antara 2-12 cm, 4 cm sebanyak 42 %, 4-8 cm sebanyak 32 %, 8-12 cm sebanyak 18 %. Pada kedalaman 2 cm dijumpai tubifex berukuran juvenile sedangkan ukuran dewasa dijumpai pada kedalaman 4 cm
Hidup pada perairan yang mengandung pasir 41,4 %, tanah halus 46 %, dan lempung 11,3 %
Pertumbuhan yang optimal diperoleh pada media yang banyak mengandung bahan organic yaitu campuran kotoran ayam 50 % dan Lumpur kolam 50 % dengan debit air 930 ml/menit
Makanan
Detritus
Partikel-partikel kecil hasil perombakan bakteri
Ganggang berfilamen dan diatom
Kualitas air
Suhu : 25 – 30 ºC
pH : 7 – 9
oksigen terlarut : 2,5 – 7 ppm

BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan tempat
Penelitian ini dimulai dari tanggal 30 oktober 2007 sampai dengan 19 desember, di departemen perikanan Vedca Cianjur.
3.2 Alat dan bahan
Alat:
Bak kayu
Plastic
Selang
Cawan Petri
Jarum pentul
Mangkuk
Bahan:
Bibit tubifex
Pupuk kandang
3.3 Langkah kerja
a. Buatlah bak atau wadah tubifex dari kayu yang dilapisi plastic yang berbentuk persegi panjang
b. Isilah bak tersebut dengan Lumpur + kotoran ayam + air dengan perbandingan 4: 4 : 2 dari tinggi bak 10 cm
c. Hitunglah kualitas airnya meliputi suhu, pH, dan debit air minimal seminggu sekali
d. Tebarlah bibit tubifex ke dalam media setelah media dibuat kurang lebih seminggu
e. Pantau perkembangan tubifex setiap hari
f. Hitunglah kualitas airnya serta atur debit airnya supaya arusnya tidak terlalu cepat
g. Lakukanlah pemupukan susulan 2 minggu setelah bibit ditebar


3.4 Analisa Data

Luas Wadah :
• panjang X lebar
• 36 X 22
• 792 cm2
• 0,0792 m2
Media kultur ( tinggi wadah 10 cm)
• 4 : 4 : 2
• Lumpur : kotoran ayam : air
Tebar bibit:
• Luas wadah X dosis
• 0,08 X 2 gr
• 0,16 gr
• Bibit yang ditebar sebanyak 39 ekor
Pengambilan sample pertumbuhan:

Contoh: setiap 10 hari sekali sample diambil dari 5 titik menghasilkan data = 2:1,5:1,5:1:1, jadi rata-rata pertumbuhannya adalah?
Jumlah rata-rata= jumlah seluruh data/banyaknya data
= 7/5
= 1,4 cm













BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

TANGGAL KEGIATAN SUHU pH DEBIT AIR
30 oktober 2007 Pembuatan bak/wadah tubifek ─ ─ ─
1 november 2007 Pengisian bak dengan Lumpur + pupuk kandang + air dengan perbandingan 4:4:2 dari tinggi bak ─ ─ ─
5 november 2007 Menghitung debit air ─ ─ 850 ml/menit
6 november 2007 Penebaran bibit tubifex sp sebanyak 39 ekor atau 0,16 gr. ─ ─ ─
13 november 2007 Menghitung kualitas air 31ºc 8 1025 ml/menit
20 november 2007 Pemupukan susulan sebanyak 9% atau satu gelas aqua dan menghitung kualitas air 30ºc 8 728 ml/menit
27 november 2007 Pemupukan susulan sebanyak 9 % 30ºc 8 728 ml/menit
19 desember 2007 Panen tubifex dab hasilnya 5,06 gr atau 2377 ekor
30ºc 8 728 ml/menit







Grafik pertumbuhan tubifex selama 4 minggu

4.2 Pembahasan
Kecepatan arus atau aliran pada tempat hidup merupakan salah satu faktor yang mengontrol kehidupan organisme sungai selain tanaman air dan oksigen terlarut. Kecepatan arus secara langsung maupun tidak langsung sangat penting pada perairan mengalir karena kecepatan arus akan menentukan macam dan jumlah endapan atau tipe dasar sungai (Mulyanto, 1992).
Hasil penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa aliran air yang tidak mematikan dan merusak substrat adalah aliran air dengan kecepatan antara 300 ml/menit sampai dengan 600 ml/menit. Hal ini dapat diketahui karena dengan kecepatan aliran air tersebut, substrat sebagai media tempat hidup dari Tubifex sp yang tidak mengalami kerusakan. Selain itu pada kecepatan aliran air tersebut jumlah populasi Tubifex sp yang terhitung adalah paling maksimal.
Berdasarkan penelitian tersebut dapat kita bandingkan dengan penelitian yang saya lakukan yang mengalami penurunan populasi tubifex serta terjadinya kerusakan media sehingga populasinya tidak maksimal. Hal ini dapat dianalisa karena debit air media tubifex yang kita budidayakan mencapai 1025 ml/menit sehingga melebihi batas normal.
Pengamatan pertumbuhan yang dialkukan selama penelitian adalah dengan melakukan perhitungan petambahan panjang individu yang dilakukan 10 hari sekali dalam populasi. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Effendi (1997) dimana pertumbuhan adalah pertambahan ukuran panjang dan berat dalam suatu waktu. Pertumbuhan yang diukur pada populasi termasuk Tubifex sp diekspresikan dalam pertambahan jumlah individu.
Arus air yang optimum juga mempengaruhi pertumbuhan tubifex sp karena arus air sebesar itu cukup untuk memberi pasokan oksigen yang besar bagi kehidupan Tubifex sp tanpa merusak substrat dasarnya. Menurut Susanto (1988) aliran air ini berguna selain untuk menambah oksigen, menjaga kesejukan juga untuk membuang sisa-sisa kotoran yang Ditambahkan oleh Mulyanto (1992) bahwa dengan tingkatan aliran tertentu diperlukan untuk memelihara substrat breeding organisme sungai sehingga cocok untuk melakukan reproduksi.
Tubifex sp hidup baik pada kombinasi substrat kotoran ayam dengan lumpur kolam karena kotoran ayam mengandung bahan organik tinggi yang dipergunakan sebagai makanan sedangkan media lumpur dalam substrat diperlukan untuk melekat. Komposisi media pada penelitian yang saya lakukan memiliki hasil yang sama dengan yang dilakukan oleh Chumaidi (1984) pada campuran 50% kotoran ayam dan 50% lumpur kolam memberikan pertumbuhan yang baik bagi cacing ini. Hasil yang baik tersebut dikarenakan kotoran ayam mengandung sisa-sisa makanan yang tidak dicerna, sekresi-sekresi perencanaan, bakteri, garam anorganik dan hasil dekomposisi (Fantenot, 1979) dengan demikian diperlukan oksigen terlarut yang mencukup agar kandungan amoniak tidak terlalu tinggi sehingga tidak sampai menghambat pertumbuhan populasi Tubifex sp.
Kecepatan debit air juga menentukan kadar oksigen terlarut. Pada suatu budiadaya, konsentrasi oksigen terlarut perlu dijaga agar tetap tinggi karena sangat penting bagi keberhasilan hidup suatu organisme (Alabaster, 1984) selain itu kadar oksigen terlarut apabila lebih dari 2 mg/ml dapat menghambat nafsu makan dan reproduksi pada Tubifex sp (McCall dan Fisher, dalam Mariam dan Pandian, 1984). Berdasarkan penelitian para aquakuluturis debit air yang lebih dari 525 ml/menit dapat meningkatkan suplai oksigen terlarut. Sehingga dengan debit air tubifex yang saya budidayakan yang mencapai 1025 ml/menit dapat meningkatkan suplai oksigen tetapi dapat merusak media tubifex.
Selama percobaan saya melakukan pemupukan susulan untuk mencegah terjadinya pengurangan bahan-bahan organic yang menjadi supali makanan bagi tubifex zp.






BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Terdapat perbedaan yang nyata antar arus air yang berbeda dengan pertumbuhan populasi Tubifex sp. Kecepatan aliran air kurang dari 900 ml/ menit merupakan arus yang baik untuk mendapatkan populasi Tubifex sp secara maksimal.Debit air yang mencapai 1025 dapat menyebabkan penurunan populasi tubifex serta terjadinya kerusakan media sehingga populasinya tidak maksimal. Kecepatan debit air juga menentukan kadar oksigen terlarut. Pada suatu budidaya, konsentrasi oksigen terlarut perlu dijaga agar tetap tinggi karena sangat penting bagi keberhasilan hidup suatu organisme (Alabaster, 1984) selain itu kadar oksigen terlarut apabila lebih dari 2 mg/ml dapat menghambat nafsu makan dan reproduksi pada Tubifex sp (McCall dan Fisher, dalam Mariam dan Pandian, 1984).
5.Saran
1. Untuk mencapai populasi maksimal maka pengontrolan debit air harus dilakukan setiap hari
2. Mengontrol dan menjaga kualitas air supaya seimbang
3. Melakukan pemupukan susulan sebagai penyediaan nutrisi tubifex sp












DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2003. A sludge Worm Tubifex, tubifex. http://www.marlin.oc.uk/
Brinkhurst, R.O. dan Cook, A.G., 1974. Aquatic Earthworm (Anelida = Oligochaeta)
Effendi, I., 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta
Chumaidi, 1984. Penelitian Teknik Kultur Tubifex.
Fantenot. 1979. Alternative in Animal Wastes Utililization Introductory Comment.
Mulyanto, 1992. Manajemen Perairan, Universitas Brawijaya, Malang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar