Selasa, 29 Desember 2009

panca usaha tani


PANCA USAHA TANI

Panca usaha tani terdir dari:

1. penggunaan bibit unggul

Benih unggul merupakan benih yang telah di pilih dan dipilah agar menghasilkan kwalitas yang baik dan tahan hama penyakit dan gangguan lainnya. Penggunaan bibit unggul merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi.

2. Pengolahan tanah yang baik
Tanah yang baik adalah tanah yang mampu menyediakan unsur-unsur hara secara lengkap. Selain harus mengandung zat organik dan anorganik, air dan udara, yang tidak kalah penting adalah pengolahan tanah yang bertujuan memperbaiki struktur tanah. Tanah yang gembur akibat pengolahan memiliki rongga-rongga yang cukup untuk menyimpan air dan udara. Kondisi ini juga menguntungkan bagi mikroorganisme tanah yang berperan dalam proses dekomposisi mineral dan zat organik tanah.
3. Pemupukan yang tepat
Pemupukan bertujuan untuk menggantikan hara yang hilang terbawa panen, volatilisasi, pencucian, fiksasi, dan sebagainya.
Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan daya saing usaha tani produk pertanian serta sejalan dengan berbagai isu lingkungan dan pertanian berkelanjutan yang berbasis sumberdaya, makin mendorong perlunya rekomendasi teknologi spesifik lokasi, terutama pupuk.

4. Pengendalian hama/penyakit

Pengendalian hama dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu mekanis, pengaturan sanitasi lingkungan atau ekologi, dan kimiawi.

Pengendallian hama secara mekanis dilakukan dengan cara menangkap langsung hama yang ada. Pengendalian mekanis dilakukan bila populasi hama sedikit. Bila populasinya banyak, sebaiknya digunakan cara lain karena tidak efesien dalam hal waktu maupun tenaga kerja

Pengendalian lainnya adalah dengan pengaturan sanitasi lingkungan. Sanitasi yang baik dan terjaga mengurangi kemungkinan hama yang menyerang.
Pengendalian secara kimiawi pun dapat dijadikan pilihan bila cara lain tidak mungkin dilakukan atau tidak dapat mengatasi hama. Artinya, bisa sudah dilakukan cara mekanis atau sanitasi lingkungan tetap saja hama menyerang tanaman maka cara kimia pun digunakan. Di pasaran sudah banyak dijual berbagai merek dan jenis pestisida untuk mengatasi hama anggrek. Hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan pestisida adalah dosis dan cara pemakaiannya. Bila dosis dan cara pemakainan salah, akan terjadi kerusakan pada komoditas pertanian maupun gangguan kesehatan manusia. Penggunaan pestisida relatif lebih praktis dan cepat cara kerjanya. Namun demikian, biaya yang diperlukan lebih besar dibandingkan cara mekanis maupun sanitasi lingkungan


5. Pengairan atau irigasi

irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian, yang jenisnya meliputi irigasi air permukaan, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa dan irigasi tambak. Rismunandar (1993) menjelaskan bahwa yang disebut irigasi merupakan usaha pengendalian, penyaluran dan pembagian air yang benar–benar diatur oleh manusia dan air benar–benar tunduk kepada manusia.

Manfaat irigasi air tanah sebagai sumber air pertanian bagi petani pemakai air tanah, bagaimana mekanisme dan kontribusi pembayaran irigasi airtanah oleh petani pemakai airtanah.


SPOTENSI PERIKANAN

1. Potensi perikanan di dunia

. Peringatan hari perikanan dunia kali ini (21/11) ditandai dengan gejala krisis ikan nasional yang cukup memprihatinkan. Lemahnya kapasitas keamanan laut dan kemampuan diplomasi Indonesia dalam memberantas kejahatan perikanan diperairan Indonesia, serta kebijakan ekonomi perikanan yang masih berorientasi pada kepentingan ekspor telah melenyapkan lebih dari 40% dari total potensi perikanan nasional. Jika tidak segera dilakukan koreksi terhadap arah kebijakan perikanan nasional, maka tahun 2015 sektor perikanan Indonesia akan mengalami keruntuhan.
Peringatan ini disampaikan oleh M.Riza Damanik, Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dalam rangkain kampanye Southeast Asia Fish for Justice (SEAFish) pada peringatan Hari Perikanan Dunia. Meski dalam kurun waktu 15 tahun terakhir kapal-kapal asing dari 10 negara terbukti aktif melakukan kejahatan perikanan diperairan Indonesia, namun lembaga-lembaga regional maupun internasional, seperti ASEAN dan PBB belum cukup memainkan peran strategisnya untuk memberikan sanksi kepada Negara-negara bersangkutan untuk turut pro-aktif dalam menertibkan armada-armada perikanannya.
Dengan situasi demikian, Indonesia tidak saja dirugikan secara ekonomi, tapi juga dalam konteks pemenuhan kebutuhan pangan (ikan) domestik. Hal ini semakin diperparah dengan model politik ekonomi perikanan nasional yang berbasis pada peruntukan ekspor. Hal ini dapat dilihat dari sejumlah kesepakatan perikanan yang dibuat oleh Negara, diantaranya IJEPA (Indonesia-Japan Economic Partnership). Sejak diberlakukan 1 Juli 2008 lalu, secara resmi tarif untuk bea masuk 51 jenis ikan telah dihapuskan (0%), antara lain produk ikan hias, barrakuda, udang baik segar maupun olahan termasuk lobster, udang dan mutiara. Kerjasama ini, hanya menggairahkan bagi kegiatan perikanan skala industri.
Sebab industri membeli hasil tangkapan berdasarkan harga lokal, namun kemudian menjualnya berdasarkan pasar internasional dengan tarif 0%. Surplus itu tidak memberikan keuntungan ekonomi kepada masyarakat nelayan, tapi justeru menyebabkan sejumlah komiditas ikan konsumsi lokal semakin sulit ditemui dipasaran tradisional. Riza menambahkan momentum peringatan Hari Perikanan Dunia kali sepatutnya digunakan oleh pemerintah Indonesia, untuk melakukan reorientasi kegiatan perikanan, dengan fokus pada 3 hal: memprioritaskan kebutuhan konsumsi nasional; jaminan perlindungan terhadap wilayah tangkap nelayan tradisional; serta melakukan revisi terhadap sejumlah kebijakan perikanan dan kelautan yang tidak sejalan dengan prinsip- prinsip keberlajutan lingkungan dan sosial, satu diantaranya UU No.27 tahun 2007 tentang Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.







2. Potensi Perikanan di Indonesia
Pengembangan perikanan air tawar terdiri dari intensifikasi dan ekstensifikasi kolam air tenang, kolam air deras, jarring apung, keramba di sungai, dan intensifikasi mina padi.Pengembangan perikanan tangkap dan budidaya di pantai termasuk di dalamnya intensifikasi perikanan tangkap dan pengembangan budidaya air payau.
Prospek Pengembangan Perikanan di Indonesia
1. Perikanan tangkap
Beberapa daerah pantai ini seharusnya dipertimbangkan sebagai objek wisata karena mempunyai pemandangan yang cukup indah. Keterbelakangan beberapa desa pantai umumnya disebabkan oleh kurangnya investasi, sumberdaya manusia yang rendah, manajemen usaha dan beberapa aspek teknis lainnya. Pada tahun 2006 produksi baru mencapai 21.808,2 ton dengan jumlah nelayan sebanyak 12.10 orang. Hal ini menunjukkan masih cukup besar potensi untuk pengembangan produksi karena angka ini jauh di bawah angka potensi lestari perikanan selat malaka sebesar 239.200 ton/tahun. Kondisi ini membuka peluang pengembangan usaha perikanan tangkapan melalui pengadaan sarana dan prasarana penangkapan.
2. Budi daya air payau
Pengembangan budidaya air payau terdiri beberapa komoditi seperti udang, ikan nila, dan kerapu. Ada sekitar 4.500 ha potensi budidaya air payau tersebar di beberapa kecamatan, yang dimanfaatkan sampai saat ini sekitar 892 ha. Produksi dari budidaya air payau hanya mencapai 1.132 ton, produktifitas budidaya udang masih rendah sebagai akibat dari permasalahan penyakit udang. Ini seharusnya menjadi perhatian untuk meningkatkan kemampuan dan permodalan dari masyarakat local dan diharapkan kepada para investor untuk menanamkan investasinya dalam rangka pemanfaatan potensi.
3. Budidaya laut
Sebagai daerah yang berhdapan langsung dengan selat Malaka ini merupakan sedikit kelemahan dalam budidaya laut. Dalam hal kondisi geografis yang demikian, budidaya di muara sungai dapat dikembangan.
4. Perikanan air tawar
Pengembangan perikanan budi daya air tawar selain meningkatkan kontibusi peningkatan produksi juga untuk memenuhi kebutuhan protein ikan, memenuhi kebutuhan bahan baku pabrik, meningkatkan pendapatan dan juga membuka lapangan kerja. Permintaan lokal untuk ikan terus meningkat sebagai kepedulian dari masyarakat bahwa ikan merupakan hidangan yang sehat. Pengembangan perikanan air tawar ke depan akan dilaksanakan di sungai, sawah sebagai mina adi dan juga kolam. Spesies ikan yang dibudidayakan terdiri dari ikan mas, nila, lele dan bawal tawar dan juga ikan patin yang merupakan ikan introduksi baru. Untuk budidaya perikanan air tawar, petensi tersebar diseluruh daerah di Indonesia. Terdapat juga potensi perairan umum seluas dan waduk perairan umum juga potensial bagi pemeliharaan ikan dengan system kerambah dan lubuk larangan.
5. Indutrsi perikanan
Melihat dari tingginya potensi perikanan dan kelautan sergai, industri di sektor ini seharusnya berperan lebih nyata. Industri perikanan ini termasuk di dalamnya penyediaan fasilitas perikanan, pengembangan pengolahan dan pasca panen. Peluang kegiatan bisnis lain di bidang perikanan dan kelautan adalah industri es dan pendinginan.
Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan perikanan budidaya adalah ketersediaan benih ikan. Sampai sejauh ini pembenihan ikan dilakukan oleh petani ikan dan beberapa usaha pembenihan dlakukan oleh perusahaan. Sejalan dengan pengembangan budidaya perikanan di daerah ini, kebutuhan akan pembenihan ikan juga akan meningkat. Oleh sebab itu, pengembangan hatchery oleh petani dan pengusaha harus mendapat dukungan. Pengembangbiakan beberapa ikan air tawar bernilai ekonomis penting telah berhasil dilakukan oleh Balai Benih Ikan. Dengan adanya usaha tersebut, Balai tersebut dapat menjadi penyalur benih kepada petani ikan atau pengusaha.


6. Pengolahan ikan
Ikan asin dan kerupuk ikan mendapat prospek yang cukup cerah untuk dikembangkan, terutama dalam skala peningkatan konsumsi ikan lokal. Industri ikan asin dan kerupuk dapat menjadi alternatif peningkatan pendapatan bagi penduduk pantai terutama bagi pemberdayaan perempuan di daerah pantai.selain permintaan akan ikan segar
7. Pemasaran ikan
Prospek pengembangan produk perikanan untuk pasar ekspor merupakan suatu peluang yang cukup besar.
Hal ini dapat terwujud bila ada investor besar yang mampu melihat peluang tersebut terlibat dalam industri perikanan ini. Namun demikian, investor yang lain juga mendapat sambutan. Pemerintah lokal mengundang investor lokal dan asing untuk berpartisipasi dalam pengembangan sektor perikanan dan kelautan
3 komoditas budidaya perairan.

1. Udang


Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan usaha budidaya udang sekitar 1,22 juta hektar hingga peluangnya cukup besar terlebih lagi Indonesia terbebas dari kebijakan anti dumping.
Udang sampai sekarang masih menjadi komoditas unggulan sektor kelautan dan perikanan, karena sampai tahun 2004 lalu saja, kontribusi udang terhadap ekspor hasil perikanan mencapai 125,6 ribu ton dengan nilai US$779,8 juta, atau Jumlah ini mencapai 52,9% dari total ekspor hasil perikanan Indonesia sebesar US$1.473 juta.
Budidaya udang tersebut telah memberikan kontribusi yang mencapai angka 87.97 ton atau senilai US$545,88 juta, untuk itu sektor budidaya tersebut harus ditumbuhkan di Indonesia.
Ditumbuhkannya budidaya udang di Indonesia tersebut, dapat memberikan kontribusi untuk peningkatkan devisa, pendapatan serta penciptaan lapangan kerja
Oleh karena itu, pemerintah sendiri akan melakukan upaya revitalisasi tambak secara intensif melalui udang vaname serta lahan tambah yang digunakan tujuh ribu hektar.
Revitalisasi tersebut juga dilakukan pada tambak-tambak tradisional, karena udang vaname dapat dikembangkan di lahan tambak seluas 140 ribu hektar atau 40% tambak tradisional di Indonesia dengan harapan produksi mencapai angka antara 600 kilogram sampai 1.500 kilogram/hektare per tahun.
"Untuk itu, maka kita perlu mengimpor induk udang vaname SPF kemudian
dilanjutkan dengan mendosmetikasikan udang vaname menjadi induk SPF dan SPR agar mengurangi ketergantungan dari impor







2. kuda laut

Kuda laut sebagai salah satu komoditi ikan hias dan bahan baku obat tradisional mempunyai pangsa pasar yang cukup tinggi, sehingga perlu upaya budidayanya terutama untuk memenuhi kebutuhan ekspor dan menekan laju eksploitasi di alam. Tujuan penelitian ini untuk mengembangkan teknologi budidaya kuda laut mulai dari tingkat perbenihan sampai penangkaran di laut guna menjamin kesinambungan suplai juwana kuda laut dan sekaligus kelestariannya di alam.
Penelitian dilakukan dari bulan Agustus sampai Desember 2003, yang terdiri dari kegiatan perbenihan di laboratorium penangkaran dan rehabilitasi ekosistem laut Jurusan Ilmu Kelautan UNHAS dan kegiatan penangkaran di perairan Pulau Lantangpeo kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Jumlah induk yang digunakan100 ekor, dipelihara dalam akuarium berukuran 80 x 60 x 60 cm dengan sistem resirkulasi, pakan berupa jembret segar sebanyak 5 – 10 % dengan frekuensi dua kali sehari. Juwana yang dihasilkan selanjutnya dipelihara dalam akuarium 30 x 40 x 35 cm dan diberi pakan berupa nauplii Artemia dengan kepadatan 2 ekor/ml dan frekuensi pemberian tiga kali sehari. Setelah dipelihara selama 1.5 bulan selanjutnya dipe;ihara dalam karamba apung di perairan Pulau Lantangpeo. Hasil penelitian menunjukkan persentase pemijahan sebesar 23.1 % dengan rata-rata persentase pemijahan sebesar 3.30 % per induk, jumlah induk yang memijah sebanyak 17 ekor dan menghasilkan juwana sebanyak 536 ekor. Sintasan juwana sampai minggu ke tujuh pada pemeliharaan di laboratorium sebesar 71 % dengan laju pertumbuhan panjang rata-rata 0,032 cm/hari. Sedangkan hasil penangkaran dalam karamba apung menunjukkan sintasan 12.5 % dengan laju pertumbuhan panjang harian 0,070 cm/hari dan pertumbuhan panjang mutlak 3.45 cm.











3. Rumput laut










.


Rumput laut telah dikenal sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun yang lalu di Indonesia maupun di mancanegara. Pada umumnya rumput laut digunakan sebagai bahan makanan dan minuman, namun seiring dengan berkembangnya IPTEK dewasa ini rumput laut dapat di kembangkan dan manfaatkan dalam berbagai macam industri misalnya tekstil, kosmetik, dan industri kefarmasian.

Pemanfaatan Rumput Laut
Rumput laut dari jenis algae merah lebih banyak dibudidayakan dibandingkan rumput laut dari jenis algae hijau dan coklat. Untuk algae coklat baru Sargasum yang mendapatkan perhatian, itupun masih sebatas penelitian, sedangkan untuk usaha budidaya sampai saat ini belum dikembangkan. Algae coklat menghasilkan Alginat. Sementara itu rumput laut merah khususnya jenis Eucheuma menghasilkan polisakarida dalam bentuk Agar dan Karagenan. Kedua polisakarida ini banyak dimanfaatkan di berbagai bidang industri. Oleh karena itu mereka mempunyai nilai secara ekonomis cukup tinggi. Dan permintaan pasar dunia akan kedua polisakarida tersebut dari tahun ketahun mengalami peningkatan
. Secara umum ketiga hasil metabolit sekunder tiga jenis rumput laut di atas memiliki fungsi yang sama dalam dunia industri yaitu digunakan sebagai bahan pengental, pensuspensi, penstabil dan pengemulsi.



TUGAS pengantar budidaya PERIKANAN
ANALISA PERIKANAN







oleh:
satrio djajong
Kelas : B



FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
JOINT PROGRAM PPPPTK PERTANIAN CIANJUR DENGAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2009

3 komentar: